Sekolah Alam Anak Pesisir Menjadi Wujud Nyata Pertamina Patra Niaga Dalam Mengembangkan Kesadaran Anak-Anak Di Mataram

News Rianto Prasetyo
Sabtu, 10 Oktober 2026 09:00:00
Rianto Prasetyo/OtoHub

Sekolah Alam Pesisir Pertamina Patra Niaga

OtoHub.co - Pertamina Patra Niaga Regional Jatimbalinus melalui Terminal Terpadu Ampenan terus mendorong pendidikan lingkungan bagi anak-anak melalui program tanggung jawab sosial dan lingkungan (TJSL) Sekolah Alam Anak Pesisir.

Program tersebut menjadi salah satu program unggulan Pertamina Patra Niaga yang menyasar anak-anak usia sekolah dasar (SD) hingga sekolah menengah pertama (SMP) di wilayah pesisir. 

Kegiatan ini dilaksanakan sebagai pendidikan tambahan di luar sekolah formal, terutama pada akhir pekan.

VP Community Involvement Development Pertamina Patra Niaga, Dian Hapsari Firasati, mengatakan Sekolah Alam Anak Pesisir dirancang untuk memberikan pemahaman kepada anak-anak mengenai pentingnya menjaga dan mengelola lingkungan sejak dini.

Rianto Prasetyo

Anak-anak bermain permainan tradisional

"Program ini bertujuan untuk memberikan pendidikan kepada anak-anak di sekitar sini, khususnya pendidikan yang berkaitan dengan lingkungan," ujarnya.

Dalam pelaksanaannya, anak-anak tidak hanya memperoleh pembelajaran secara teori, tetapi juga diajak terlibat langsung dalam berbagai aktivitas lingkungan, salah satunya adalah penanaman dan pembibitan mangrove.

Bersama kelompok masyarakat, anak-anak mendapatkan edukasi mengenai cara menanam, merawat, serta mengolah mangrove. 

Hingga saat ini, sekitar 4.500 pohon mangrove telah ditanam di kawasan tersebut bersama masyarakat.

Rianto Prasetyo

Ekowisata mangrove menjadi daya tarik dalam program keanekaragaman hayati

Selain pendidikan lingkungan, program ini juga mengangkat upaya pelestarian permainan tradisional anak-anak. Salah satu inovasi yang dikembangkan oleh masyarakat setempat adalah Pertakid, singkatan dari Permainan Anak Tradisional Indonesia.

Melalui permainan tersebut, anak-anak diperkenalkan pada berbagai nilai tentang menjaga kebersihan, tidak membuang sampah sembarangan, serta memahami pentingnya keberadaan hutan mangrove.

Inovasi Pertakid tersebut juga telah dipatenkan sehingga diharapkan dapat menjadi salah satu model edukasi yang menggabungkan pelestarian budaya dengan kepedulian terhadap lingkungan.

Selain kegiatan pembelajaran, dukungan program juga diwujudkan melalui penyediaan fasilitas seperti gedung sekolah, perlengkapan belajar, serta sarana permainan tradisional.

Kelompok masyarakat menjadi salah satu pihak penting dalam keberlangsungan program tersebut. 

Hazid, salah satu anggota kelompok masyarakat yang terlibat, mengatakan bahwa kegiatan saat ini diikuti oleh sekitar 50 anak dan melibatkan sekitar 15 orang dari masyarakat.

Rianto Prasetyo

Anak-anak sedang mengikuti pembelajaran bahasa Inggris oleh pengajar

Menurutnya, pelaksanaan program juga mendapat dukungan dari sejumlah pihak di luar kawasan seperti Mataram dan Sumbawa berupa pengelolaan kegiatan secara daring.

Dampak program tidak hanya dirasakan dalam aspek pendidikan dan lingkungan. 

Kawasan mangrove yang dikembangkan juga diarahkan menjadi kawasan ekowisata yang menarik kunjungan akademisi, peneliti, masyarakat, serta pemerintah daerah.

Pengembangan ekowisata tersebut turut memberikan manfaat ekonomi bagi masyarakat. 

Kelompok masyarakat tersebut disebut mampu memperoleh pendapatan sekitar Rp24 juta per tahun dari aktivitas kunjungan wisata di kawasan tersebut.

Dian mengatakan bahwa berbagai capaian tersebut menunjukkan bahwa program TJSL tidak hanya berorientasi pada pemberian fasilitas, tetapi juga diarahkan untuk menciptakan dampak berkelanjutan bagi masyarakat.

Melalui Sekolah Alam Anak Pesisir, pendidikan lingkungan, pelestarian budaya, pemberdayaan masyarakat, pengembangan ekowisata, hingga pemanfaatan energi terbarukan berjalan secara beriringan.

Program tersebut diharapkan dapat membangun kesadaran anak-anak dan masyarakat mengenai pentingnya menjaga ekosistem pesisir sekaligus mempertahankan permainan tradisional sebagai bagian dari budaya lokal.

Bagikan

Baca Artikel Asli