OtoHub.co - Anda sedang mencari mobil ramah lingkungan? Ada kabar baik nih buat para peminat mobil ramah lingkungan!
Jadi, Menteri Perindustrian (Menperin) Muhammad Sarmuji mendorong pemberian insentif nonfiskal bagi kendaraan berteknologi hybrid, Plug-in Hybrid Electric Vehicle (PHEV), dan Range Extended Electric Vehicle (REEV), guna mempercepat pengembangan industri otomotif nasional sekaligus mendukung efisiensi konsumsi bahan bakar minyak (BBM).
Insentif tersebut berupa kemudahan administrasi, pembebasan aturan ganjil-genap, hingga penyediaan fasilitas parkir khusus.
Menperin Sarmuji menilai pemberian insentif tidak harus selalu berbentuk keringanan pajak, tetapi juga dapat diwujudkan melalui berbagai kemudahan yang memberikan manfaat langsung bagi masyarakat sebagai pengguna kendaraan ramah lingkungan.
"Nonfiskal itu, misalkan, administrasi, di kota-kota bisa dipakai, ganjil-genap tidak terkena, ada parkir khusus. Mungkin juga kalau yang masih perlu charger, ada fasilitas charger dan sebagainya," ujar Menperin Sarmuji seusai melakukan pertemuan dengan pengurus Gabungan Industri Kendaraan Bermotor Indonesia (GAIKINDO) di Jakarta, Rabu (21/10).
Baca Juga:
PT Sumber Mas Autorindo Gelar Seminar Inovasi Telematika, Sambut Era Smart Mobility
Menurut Sarmuji, selama ini kendaraan listrik berbasis baterai penuh atau Battery Electric Vehicle (BEV) telah memperoleh sejumlah insentif, termasuk fasilitas pembebasan dari aturan ganjil-genap.

Muhammad Sarmuji, Nahkoda Baru Pengembang Industri Indonesia
Namun, kendaraan dengan teknologi hybrid, plug-in hybrid, dan REEV belum memiliki skema (penambahan) insentif yang dirumuskan secara khusus.
Padahal, ketiga teknologi tersebut dinilai memiliki kontribusi penting dalam mengurangi konsumsi BBM, terutama BBM bersubsidi, sekaligus menekan emisi kendaraan.
"Kalau full battery selama ini sudah ada insentif yang memadai, baik berkaitan dengan administrasi maupun ganjil-genap. Sementara yang plug-in hybrid dan REEV itu akan dirumuskan (penambahan) insentifnya," ungkapnya.
Sarmuji menjelaskan bahwa perkembangan teknologi kendaraan elektrifikasi membuka peluang besar bagi Indonesia untuk memperkuat ketahanan energi nasional.
Kehadiran kendaraan yang mengombinasikan mesin pembakaran internal dengan sistem penggerak listrik memungkinkan penggunaan BBM menjadi lebih efisien tanpa sepenuhnya bergantung pada infrastruktur pengisian daya.

All New Kijang Innova Zenix Hybrid
Menurutnya, teknologi tersebut juga dapat memberikan manfaat ekonomi bagi konsumen karena konsumsi bahan bakarnya relatif lebih hemat dibandingkan dengan kendaraan konvensional.
"Menurut saya, ini sesuatu yang sangat strategis karena dengan memproduksi dan kemudian memasarkan secara lebih masif dua jenis kendaraan itu, akan berdampak pada penghematan BBM kita, khususnya BBM bersubsidi. Di samping juga pasti akan berakibat pada menurunnya emisi," tuturnya.
Sarmuji menegaskan bahwa Kemenperin akan berkoordinasi dengan kementerian, lembaga, dan pemangku kepentingan terkait untuk membahas kemungkinan penerapan berbagai insentif tersebut.
Pembahasan diperlukan mengingat kebijakan nonfiskal, seperti pengaturan lalu lintas dan fasilitas parkir, melibatkan kewenangan instansi terkait serta pemerintah daerah.
"Kementerian Perindustrian pasti akan mendukung dan mengomunikasikan ini dengan stakeholder yang lain supaya industri di jenis kendaraan ini akan berkembang di masa-masa yang akan datang," tegasnya lagi.
Selain insentif nonfiskal, pemerintah juga akan mengkaji kemungkinan pemberian insentif fiskal, antara lain melalui keringanan pajak.
Namun, Menperin menekankan bahwa besaran insentif tidak harus disamakan dengan fasilitas yang telah diberikan kepada kendaraan listrik berbasis baterai penuh.

Changan Deepal S05 REEV vs iCAR V27 REEV
"Keringanan pajaknya tidak harus sama. Yang penting ada insentif sehingga industri juga tumbuh. Karena manfaatnya juga sama-sama dirasakan, baik untuk masyarakat maupun negara," jelasnya.
Dari sisi industri, pengembangan kendaraan hybrid, plug-in hybrid, dan REEV juga dinilai memiliki keunggulan karena masih memanfaatkan sejumlah komponen kendaraan bermesin pembakaran internal atau Internal Combustion Engine (ICE).
Dengan demikian, industri komponen otomotif nasional memiliki peluang untuk beradaptasi secara bertahap menuju era elektrifikasi.
"Kalau yang plug-in maupun hybrid biasa maupun REEV itu masih memakai baterai, tetapi juga masih memakai mesin ICE. Jadi, komponen-komponen yang sekarang diproduksi tidak perlu berubah secara total. Menyesuaikan dirinya masih lebih mudah," kata Sarmuji.
Menperin menargetkan agar pembahasan dan pengusulan (penambahan) insentif dapat dipercepat pada tahun ini. Momentum perkembangan teknologi kendaraan elektrifikasi dan dinamika harga BBM perlu dimanfaatkan untuk memperkuat daya saing industri otomotif nasional.
"Insentif akan kita dorong secepatnya. Mumpung ada momentum harga BBM lagi naik, ini momentum untuk memperkuat industri berbasis baterai, tetapi dengan berbagai jenis tadi. Ini target diusahakan tahun ini," tegas Sarmuji.

Yosi Setyo

















