OtoHub.co - Selama puluhan tahun, mesin diesel telah menjadi simbol kekuatan dan efisiensi dalam dunia otomotif.
Dikenal karena torsinya yang melimpah dan konsumsi bahan bakar yang irit, kendaraan diesel menjadi pilihan utama bagi mereka yang membutuhkan "pekerja keras" di jalan raya.
Nah seiring dengan tuntutan lingkungan yang semakin ketat, apakah mobil diesel masih memiliki masa depan?
Namun saat ini kita tidak bisa menutup mata bahwa hari ini kita berada di tengah realitas baru, harga bahan bakar diesel yang kian melambung tinggi.
Tantangan ini menuntut kita untuk menghitung ulang setiap tetes bahan bakar yang masuk ke dalam ruang bakar.
Baca Juga:
Knalpot Mobil Diesel Keluar Asap Putih? Komponen Ini Jadi Penyebab Utamanya
Di satu sisi, pengguna membutuhkan performa dan ketangguhan yang tidak berkurang. Namun di sisi lain, efisiensi dan kehematan kini telah bergeser dari sekadar pilihan, menjadi sebuah keharusan untuk bertahan.
Lalu pertanyaan selanjutnya, bagaimana teknologi diesel masa kini dan nanti mampu menjawab tantangan harga bahan bakar yang semakin mahal, tanpa harus mengorbankan DNA ketangguhannya?
Untuk menjawab semua itu, OtoHub.co menggelar Forum Sidkom (Sidak Komunitas) yang dilangsungkan di Hotel Ibis Sunter, Jakarta Utara (27/6).
Pada diskusi panel ini menghadirkan praktisi yang membawa riset ilmiah, pabrikan yang memegang teknologi masa kini dan masa depan, produsen pelumas yang menjaga performa tetap optimal, teknisi yang berpengalaman, dan spesialis mobil bekas yang memahami denyut nadi pasar riil.

Perbandingan bahan bakar CN 51 dan CN 53
Di forum diskusi panel ini dihadirkan juga komunitas otomotif dari perwakilan Innova Community, SUV Brotherhood, D-Cab ID, ID42NER Bogor, dan Raize Indonesia Club. Komunitas bagian dari pengguna langsung yang merasakan suka dan duka memiliki mobil bermesin diesel.
Dr.-Ing. Ir. Tri Yuswidjajanto Zaenuri, Dosen Fakultas Teknik Mesin dan Dirgantara Institut Teknologi Bandung (ITB) sebagai panelis mengatakan, awalnya mesin diesel diciptakan sebagai mesin yang tangguh.
Prinsipnya mesin diesel memiliki daya yang tinggi dengan konsumsi bahan bakar yang hemat dan rendah emisi.
Syarat ini bisa tercapai dengan pemakaian bahan bahar dengan Cetane Number (CN) atau angka setana yang direkomendasi sesuai kebutuhan mesin, tegas Prof Yus panggilan akrabnya.
"Angka setana semakin tinggi akan mempercepat proses pembakaran. Di Indonesia bahan bakar untuk mesin yang memiliki CN tinggi ada CN53, contohnya Pertamina Dex," jelas Prof Yus, panggilan akrabnya.
Ia menambahkan, "CN53 diperuntukan mesin diesel generasi terbaru (common rail direct injection) yang dampaknya untuk usia filter bahan bakar dan injektor lebih panjang. Penggunaan bahan bakar CN53 akan membuat penggunaan pelumas juga lebih panjang. "

Dr.-Ing. Ir. Tri Yuswidjajanto Zaenuri, Dosen Fakultas Teknik Mesin dan Dirgantara Institut Teknologi Bandung (ITB)
Sebaliknya kalau mobil diesel generasi baru menggunakan bahan bakar CN51, contohnya Bio Solar, akan memperpendek usia filter dan injektor. "Jarak penggantian pelumas akan lebih pendek," kata, Prof Yus.
Seperti yang sudah disinggung oleh Prof Yus, penggunaan bahan bakar CN53 akan membuat penggunaan pelumas juga lebih panjang.
Hal ini juga diamini Mulianto, Senior Analys PCO & Specialties PT Pertamina Lubricants.
"Bicara mesin diesel, bicara mesin tangguh. Tapi, ratusan ribu kilometer mesin diesel yang tangguh bermula dari perawatan yang benar hari ini. Performa maksimal, efisien, dan umur komponen lebih bukanlah kebetulan. Melainkan hasil dari kedisiplinan dalam merawat kendaraan. Salah satu yang sangat penting untuk pemilik mesin diesel mengenal fungsi pelumas di mesin diesel," ujar Mulianto.
Ia menegaskan, musuh utama oli diesel jelaga atau soot (kerak) di ruang bakar. Makanya, fungsi pelumas di mesin diesel juga sebagai pengikat jelaga atau soot (kerak) dari hasil pembakaran agar tidak menempel di dinding mesin. Karena itu, oli diesel akan menghitam lebih cepat.
Sekedar informasi, di pasaran tersedia oli mineral dan sintentis untuk mesin diesel. Oli mineral maksimal penggunaannya sampai 5.000 km. Oli sintetis bisa dipakai 7.500 km-10.000 km.

Mulianto, Senior Analys PCO & Specialties PT Pertamina Lubricants
Kelebihan oli sintetis bisa meredam panas ekstrem dari mesin, dibanding pendinginan oli mineral. Pelumas mineral hanya bisa direkomendasikan untuk mesin diesel konvensional dan non-turbo.
"Oli sintetis diperuntukan untuk mesin diesel turbo dan generasi terbaru. Penggunaan solar dengan Cetan Number tinggi seperti CN53, contohnya BBM Pertama Dex, pembakaran mesin sempurna dan minim jelaga," kata Mulianto.
"Suara mesin halus, akselerasi responsif. CN tinggi dipastikan rendah sulfur yang akan menjaga komponen tetap bersih dan bebas sumbatan," imbuhnya.
Ia menambahkan, berbeda menggunakan solar dengan angka CN rendah, seperti CN51. Bahan bakar sulfur tinggi dan tidak dicampung aditif. Jadinya, mesin beresiko knocking (ngelitik), tenaga loyo, dan asap tebal.
"Penggunaan bahan bakar sesuai spesifikasi mesin didukung penggantian oli yang sesuai rekomendasi akan berdampak masa pemakaian mesin diesel terjaga performanya dan konsumsi bensin efisien," tukas Mulianto.

Forum Diskusi Bersama Para Pakar : Menyeimbangkan Performa dan Efisiensi di Era Modern
Suara Komunitas
Diskusi soal masa depan mesin diesel ini juga mandapat tanggapan dari beberapa peserta yang hadir.
"Hari ini, bagus banget, saya dari komunitas sebagai user diesel, banyak dapat pencerahan terutama dari Pak Yus tadi ya," beber Ravi dari komunitas Double Cabin Indonesia.
"Langsung dari ahlinya, terutama dari segi mitos-mitos sih, kita sekarang banyak denger mitos-mitos. Nah disini ternyata langsung dijawab secara saintifik," imbuh Ravi.
Ia menambahkan, menurut saya ini sebuah pencerahan yang bagus banget dan harapannya semoga kedepannya dibikin lagi acara seperti ini.
Hal yang sama diungkapkan David dari Innova Community, "Hari ini itu sangat keren ya menurut saya acaranya, karena memberikan edukasi juga kepada kita sebagai pengguna diesel gitu ya."

Forum Diskusi Bersama Para Pakar : Menyeimbangkan Performa dan Efisiensi di Era Modern
"Karena memang kita itu diesel oriented dari dulu, jadi di sini kita diajarin juga sama diberi insight itu dari Pak Yus, kalau kita itu penggunaan diesel itu harus sesuai dengan BBM yang kita harus gunakan," imbuh David.
"Di acara ini kita semua bertukar sharing pikiran bahwa diesel itu gak mati loh, banyak fanatik fans-nya," ujar David.
Masih banyak keseruan dari acara seputar mobil diesel ini, tunggu ulasan kami berikutnya. Pendapat dari APM, dan tentu apakah mobil bekas diesel itu masih laku nggak sih?
So stay tune yaa..

Yosi Setyo

















