OtoHub.co - Makin bertumbuhnya pasar mobil listrik atau Electric Vehicle (EV) di Indonesia belakangan ini, tentunya membuka peluang bisnis untuk layanan aftersales-nya.
Tak heran bila kini mulai muncul bengkel-bengkel umum yang menawarkan jasa perawatan untuk mobil listrik.
Sehingga konsumen semakin banyak pilihan saat ingin melakukan perawatan berkala untuk EV kesayangannya setelah habis masa garansi.
Namun yang jadi pertanyaan, apakah bengkel-bengkel yang manawarkan perawatan dan perbaikan mobil listrik tersebut tak jauh berbeda dari bengkel kendaraan konvensional atau ICE (Internal Combustion Engine)?
"Untuk kendaraan konvensional, mungkin bengkel pinggir jalan itu sudah lebih dari cukup. Tapi kalau kita berbicara tentang kendaraan listrik, ada aspek lain yang harus kita pertimbangkan dan kita perhitungkan," jelasGhany Heryana, Trainer & Expert TUV Rheinland dalam workshop di booth Tech & Skills Workshop ajang Automechanika Jakarta 2026 di NICE PIK 2, Tangerang, hari ini (25/9/2026).

Ghany Heryana. Workshop untuk menangani mobil listrik, standarnya berbeda dari mobil ICE
Kenapa?, lanjut Ghany, karena di dalam mobil listrik ada baterai yang berisi energi (listrik), dan energi pada baterai ini akan selalu ada walaupun kendaraan tidak dinyalakan.
"Tegangan (baterai) di kendaraan listrik itu lebih dari 60 Volt. Rata-rata EV sekarang itu sudah 300 - 600 Volt DC. Nah, lebih dari 60 Volt DC saja kita harus treatment dengan penanganan kendaraan bertegangan tinggi," terangnya.
Artinya apa? "Ada 'bahaya' yang harus kita manage. Nah, kalau kita lihat contoh, saya sih bersyukur ya sudah bermunculan workshop untuk penanganan kendaraan listrik, terutama dari segi baterai, itu sudah luar biasa," lanjut Ghany.
Namun sayangnya workshop tersebut kata Ghany mengabaikan beberapa aspek yang dapat membahayakan man powernya, serta lingkungan di sekitar.
Padahal untuk menangan baterai bertegangan tinggi, butuh standar khusus.
Mulai dari bentuk workshopnya seperti apa, kemudian harus memenuhi 5 rules safety, kualifikasi teknisinya, hingga potensi bahaya yang bisa ditimbulkan.
Mulai dari bahaya kesetrum arus tegangan tinggi, hingga baterainya terbakar.
Karena tahu sendiri, ketika baterai mobil listrik mengalami thermal runaway atau terbakar, sangat sulit untuk dipadamkan.
"Selama energi di dalam baterai masih ada, thermal runaway akan terus berlangsung sampai energinya benar-benar habis," tukas Ghany.
Resiko ini tentunya harus diperhatikan dan diperhitungkan ketika membangun sebuah workshop mobil listrik.
Nah, buat kalian pelaku bisnis yang ingin mendapatkan pengetahuan lebih seputar dunia otomotif, bisa datang ke acara Automechanika Jakarta yang akan berlangsung hingga tanggal 27 September 2026 di NICE PIK 2, Tangerang.

Suasana hari kedua Automechanika Jakarta 2026 di hal B NICE PIK 2, Tangerang


Andhika Arthawijaya
















