News Panji MaulanaPanji Maulana Senin, 08 Juni 2026 19:00:00

Penjualan Mobil Listrik Melonjak di 2026, GAIKINDO Kasih Paham Penyebabnya

Penjualan Mobil Listrik Melonjak di 2026, GAIKINDO Kasih Paham Penyebabnya
Panji M/OtoHub.co

Charging station mobil listrik tampak penuh, pertanda jumlah EV juga bertambah

OtoHub.co - Berdasarkan GAIKINDO, penjualan mobil listrik atau BEV (Battery Electric Vehicle) menunjukkan hasil positif pada awal 2026.

Penjualan (wholesales) mobil listrik mencapai angka 47.781 unit selama kuartal pertama (Januari-April) 2026.

Dimana kalau diurutkan perbulannya, pada Januari menyumbang 10.259 unit, Februari laku 12.313 unit, Maret sempat terkoreksi menjadi 10.572 unit dan meningkat kembali pada April menjadi 14.815 unit.

Hal itu menunjukkan bahwa pasar mobil full listrik atau BEV berkembang pesat di tahun ini. Dimana didominasi oleh merek-merek asal China yang ramai-ramai melantai ke pasar otomotif Indonesia beberapa tahun terakhir ini.

Kukuh Kumara, sekjen GAIKINDO mengakui pasar mobil listrik mengalami pertumbuhan signifikan saat ini. "Saya menggunakan istilah New Energy Vehicles (NEV), jadi bukan hanya BEV saja, atau bukan mobil listrik saja, tapi termasuk juga hybrid, plug-in hybrid (PHEV). Itu adalah New Energy Vehicles. Itu punya tren yang meningkat."

Yosi Setyo/OtoHub.co

Chery Tiggo 8 CSH, mobil berteknologi PHEV terlaris di Januari-April 2026

"Tapi total New Energy Vehicles itu punya pangsa pasar sampai dengan Maret kemarin itu sekitar 24,9 persen. Dimana 15 persennya adalah elektrik vehicles (BEV). Kemudian hybrid, kemudian plug-in hybrid yang relatif baru," terang Kukuh.

Tahun lalu, total pangsa pasar sekitar 12-13 persen. Sekarang bisa mencapai 20 persenan lebih. Apa penyebab bisa berkembang cukup pesat?

Menurut Kukuh, masyarakat Indonesia itu membeli kendaraan yang harganya di bawah Rp 300 juta. "Kalau Anda ingat tahun lalu, itu ada elektrik vehicles yang harganya di bawah Rp 300 juta. Nah itu, orang berpikir, wah ini menarik juga."

Baca Juga:

GAIKINDO Tanggapi Seluruh SPBU Wajib Jual Bioetanol E5 Mulai Juli 2026

Sebut saja BYD Atto 1 yang diluncurkan pertengahan tahun 2025 lalu dengan harga mulai dari Rp 195 juta (OTR Jakarta). CIty car EV ini sempat heboh dan laris saat peluncuran karena alasan-alasan tersebut.

"Karena dari teknologinya menarik, kemudian juga ada saving. Karena ada kajian bahwa cost of ownership dari elektrik vehicles ini juga menarik. Dan itu memberikan manfaat yang banyak bagi masyarakat. Masyarakat beli. Dari bahan bakarnya dan sebagainya. Harganya terjangkau mereka beli," jelas Kukuh memberi alasan.

Meski begitu, alasan itu berlaku untuk kota sentris dan Jawa sentris. Pembelinya kebanyakan ada di kota-kota besar.

"Terutama Jakarta. Dan mereka yang beli elektrik vehicles, di awalnya adalah mereka yang sudah punya mobil. Jadi yang beli mobil itu bukan first time buyer," lanjut pria ramah ini.

"Tapi tadi yang saya katakan, dengan adanya harga yang terjangkau, mereka mulai beli. Bahkan kebelakangan kan sudah dipakai juga sebagai ride-hailing vehicles kan. Untuk nge-Grab ataupun Gojek," ujar Kukuh saat ditemui OtoHub.co beberapa waktu lalu di kantor GAIKINDO di Cikini, Jakpus.

Kukuh menegaskan perkembangan NEV di Tanah Air saat ini bukan semata-mata semuanya harus EV. Karena komitmen menuju net zero emission di tahun 2060, itu bisa dicapai dengan berbagai jalan.

"Jadi industri yang sudah ada, itu juga bisa mendapatkan tempatnya dan bisa berkembang. Perlu dicatat juga, di industri kendaraan bermotor, itu selalu menuju ke arah yang lebih baik," imbuhnya.

Yosi Setyo/OtoHub.co

Kukuh Kumara, Sekretaris Jendral GAIKINDO

Lebih jelasnya, Ia mengatakan kalau melihat ICE, ICE itu mungkin kalau dibanding tahun dulu secara global pun, mobil diesel dulu asapnya kayak apa. Sekarang diesel senyap. Asapnya, emisinya rendah pun ada. Jadi semua teknologi itu bisa dimanfaatkan menuju net zero emission.

"Tidak semata-mata dengan elektrik vehicles. Jadi teknologi juga menuju, mengarah ke hal yang sangat positif," tegas pria yang pernah bekerja di General Motors Indonesia itu.

"Nah sebagai catatan, semenjak tahun 2018 kan, kalau kita bicara sama emisinya, kita sudah mengadopsi Euro 4. Itu ada lagi Euro 5, ada Euro 6. Ini kan artinya memberi ruang untuk ICE untuk berkontribusi terhadap upaya pencapaian net zero emission. Bahwa kemudian teknologi baru yaitu elektrik vehicles, oke juga gitu kan. Nah kita kan sedang dalam proses untuk meningkatkan kandungan lokalnya elektrik vehicles juga," tukas Kukuh.

Jadi harus berjalan beriringan, ya Pak?

Related Article

Related Category